1 Contextualize. "Daratkanlah" isi renungan Anda dengan peristiwa kehidupan sehari-hari secara nyata. Pembaca renungan bukan malaikat yang hidup tanpa masalah di angkasa. Pembaca renungan adalah manusia biasa dengan pergumulan kehidupan yang tidak enteng. Mereka membutuhkan penguatan rohani yang aplikatif.
Diadisebut “pemungut cukai” (Yun, “Telones”). Matius penulis Injil ini dianggap sama dengan Matius pemungut cukai, yang bertobat lalu mengikuti Yesus. [3] Dalam Injil Markus dan Injil Lukas, Matius pemungut cukai ini disebut Lewi. [4] Meskipun ada yang menduga ditulis oleh Matius lain yang hidup 80 tahun setelah Yesus wafat.
Kedewasanitu adalah pemikiran yang bijaksana, yang sabar, yang memandang dari sisi positif, yang tabah, yang bertanggungjawab. Yang memahami bahwa kesulitan dan kekalahan adalah bagian terminal dari kehidupan. “Saya berpikir selama bertahun-tahun. dan baru yang ke 100 yang benar.”.
11 Langkah pertama. Langkah awal yang harus ditempuh dalam pengambilan keputusan etis adalah sebisa mungkin untuk dapat mengenali masalah yang sedang dihadapi. Ada beberapa cara pengenalan masalah yang harus dilakukan, antara lain: a. Pengenalan terhadap kasus yang sedang dihadapi.
HAPPYMONDAY, BEKERJALAH DENGAN CINTA (Kolose 3:23) Menurut penelitian, jumlah energi yang dikeluarkan untuk mengayun sebuah pacul ke tanah sama besarnya dengan jumlah energi yang dikeluarkan untuk mengayun sebuah tongkat golf. Namun, seorang pegolf akan merasa lelah jika harus mengayun pacul di sawah. Sebaliknya, seorang
BacaJuga: Apakah Urutan Kelahiran Anak Mempengaruhi Karakternya?Penting Untuk Hindari Stereotip. Pergumulan dan tantangan anak remaja untuk mengambil pilihan identitas diri mempunyai beberapa fase, yang disebut dengan phases of identity development (fase perkembangan identitas).. Menurut James Marcia, seorang psikolog klinis dan
Walaupunalasan kesejajaran ini menggembirakan, namun seringkali, saya menduga, bahwa pergumulan orang-orang yang masih lajang adalah hal-hal seputar kesepian, kemarahan, rasa bersalah, hubungan interpersonal, kepercayaan diri, seks di luar pernikahan, dan homoseksual. Sebagai konselor perlu menyadari hal-hal berikut ini: 1.
R7lDi. Oleh Ahmad Syafii Maarif Yang saya maksudkan dengan teologi dalam tulisan ini adalah sistem kepercayaan kepada Tuhan yang selalu berpihak pada kebenaran, keadilan, kesabaran, kejujuran, dan ketakwaan. Dalam Alquran banyak ayat yang menegaskan tentang keberpihakan ini. Artinya, Tuhan tidaklah netral dalam sejarah. Tetapi, dengan kekalahan beruntun umat Islam dalam perlombaan peradaban selama rentang waktu yang panjang, apakah pemihakan itu sudah tidak berlaku lagi? Mengapa? Di sinilah pergumulan teologis dan realitas hidup itu semakin menegangkan dan sulit dipahami. Dari sisi pihak lain, keterangan Karen Armstrong patut juga didengar. Menurut penulis perempuan Inggris ini, banyak orang Inggris tidak percaya lagi kepada Tuhan, dengan alasan Tuhan tidak berbuat sesuatu untuk menyetop Perang Dunia PD II yang telah membawa malapetaka dahsyat bagi Eropa itu. Berbeda dengan orang Inggris, sepanjang pengetahuan saya, betapapun umat Islam telah mengalami kekalahan demi kekalahan, mereka tidaklah sampai meninggalkan iman mereka kepada Allah. Paling-paling sebagian mereka salah tingkah dalam menjawab tantangan yang tidak mampu dihadapi. Mereka bahkan masih terus berdoa agar umat ini bangkit kembali dari segala macam keterpurukan dan kehinaan yang datang silih berganti. Tengoklah apa yang sedang berlaku di Suriah, Irak, Afghanistan, Pakistan, dan di kawasan lain, umat Islam hidup dalam kegelisahan, ketidakamanan, dan penderitaan yang mengenaskan. Bom bunuh diri meledak di berbagai tempat. Pengungsi bertebaran di mana-mana, akibat hidup sudah tidak aman lagi. Belum lagi bentrok sektarian antara puak Suni dan puak Syiah yang terus saja terjadi sejak ratusan tahun yang lalu di berbagai bagian dunia. Ironisnya, konflik sektarian ini sama-sama mengklaim sebagai umat beriman. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini kepada golongan mana pemihakan Tuhan dalam masalah konflik sektarianisme ini. Atau, memang tidak ada pemihakan itu karena masing-masing sekte sudah teramat jauh dari jalan kebenaran dan jalan ketakwaan. Yang tersisa adalah sikap saling mengklaim kebenaran tanpa kriteria yang jelas. Apa yang berlaku di dunia Arab sejak 2010 adalah drama berdarah-darah akibat hilangnya kepercayaan rakyat banyak kepada penguasa zalim yang seagama dengan mereka. Ribuan sudah menjadi korban, di samping harta dan bangunan yang merata dengan tanah. Kerentanan ini telah dimanfaatkan dengan baik oleh kekuatan Neoimperialisme Barat untuk semakin meremukkan jiwa dan tubuh umat Islam yang telah lama tak berdaya membela martabat dan hak mereka di muka bumi. Jika logika Alquran dijadikan acuan tentang intervensi Tuhan baru akan menjadi kenyataan jika umat Islam bersedia mengubah sikap mental mereka yang telah lama berkubang dalam dosa dan dusta, kembali ke jalan yang benar dan lurus. Lihat QS al-Ra’du ayat 11. Ayat ini masih sering diucapkan, tetapi apakah kita sungguh-sungguh memahami dan kemudian melaksanakannya dalam menata hubungan sesama umat Islam? Kita piawai dalam soal kutip-mengutip, tetapi hati telah lama gersang untuk menangkap maknanya yang autentik dan terdalam. Inilah yang sangat merisaukan dan mendera kita semua sampai detik ini. Kerisauan ini merupakan derita bagi banyak penulis Muslim sepanjang abad, tetapi suasana ke arah perbaikan belum juga kunjung datang. Alangkah sabarnya para penulis ini dalam menunggu pemihakan Tuhan kepada umat ini. Umat ini sulit sekali sadar untuk mengubah kelakuan, mengubah sikap mental sebagai konsekuensi logis dari seorang yang beriman yang tulus. Tidak jarang para penulis itu melakukan “protes” terhadap kebijakan Tuhan atas umat Islam, seperti terbaca dalam karya Iqbal Shikwa wa Jawab-i-Shikwa “Keluhan dan Jawaban atas Keluhan yang dibacakan pertama kali tahun 1909 di Lahore. Kita kutip satu di antaranya Ada umat dengan iman yang berbeda, sebagian mereka zalim. Sebagian rendah hati; sebagian mabuk dalam semangat kesombongan. Sebagian pemalas, sebagian dungu, sebagian punya otak, Ratusan yang lain ada pula yang putus asa terhadap nama-Mu. Rahmat-Mu terguyur atas rumah-rumah orang tak beriman, semuanya asing. Hanya atas si Muslim yang papa, kemurkaan-Mu ibarat kilat yang menyambar. Lihat Muhammad Iqbal, Shikwa wa Jawab-i-Shikwa. Terjemahan dari bahasa Urdu oleh Khushwant Singh. Delhi Oxford University Press, 1983, halaman 41.
Judul Darah Muda Penulis Dwi Cipta Tahun Terbit 2018 Iklan Penerbit Literasi Press Tebal x + 386 ISBN 978-602-72918-3-6 Ini adalah buku pertama yang saya baca di tahun 2018. Penulisnya menyebutnya sebagai sebuah novel. Bagi saya buku ini lebih seperti jurnal harian yang diedit daripada sebuah novel. Namun kisah yang dituturkan dalam buku ini sungguh sangat menarik. Saya salut kepada Dwi Cipta, sang perangkai buku ini karena keberaniannya mengisahkan secara kronologis persinggungannya dengan dunia tulis-menulis dan persekolahan. Ia mengisahkan pengalamannya sejak sebelum mengenal TK sampai dengan copot dari kesempatannya mendapat selembar ijazah sarjana. Kenapa saya anggap Dwi Cipta amat berani – dan menurut saya lebih tepat disebut nekat? Sebab tak banyak orang yang mau menceritakan pengalaman dengan topik tunggal dalam 386 halaman! Tokoh “Aku” digambarkan sebagai orang yang kemaruk terhadap buku. Pertemuannya dengan buku di Balai Desa tanpa sengaja saat masih usia dini membuatnya jatuh cinta. Buku adalah pelarian dari posisinya dalam dunia yang tidak bahagia. Lahir dari ayah dan ibu yang dibenci oleh keluarga besarnya, membuat ia pun juga menjadi sasaran rundung. Sejak kecil ia sudah dipanggil dengan panggilan KIRIK – anjing! Kehidupan masa anak-anaknya yang penuh perundungan itu membuatnya mencari tempat pelarian. Buku adalah tempat pelarian yang nyaman baginya. Buku adalah pintu untuk menuju dunia lain yang membahagiakannya. Dikaruniai otak yeng encer, tokoh Aku menjalani kehidupan persekolahannya bukannya tanpa liku. Saat SMP, karena mabok dengan pendapat-pendapat dari buku yang dibacanya, membuat dirinya tidak disukai oleh guru. Namun demikian, di kelas tiga, ia memilih untuk menjadi seorang “penurut” sehingga bisa lulus dengan baik. Sayang ia tidak mendapatkan tempat di SMA yang diidamkannya. Kediktatoran ayahnya membuat ia kehilangan kesempatan untuk masuk ke SMA yang diincarnya. Sejak itulah ia sangat membenci ayahnya yang dianggapnya sok tahu, padahal tidak tahu. Pergumulan tentang tujuan hidup dan pilihan profesi mulai menggelora saat tokoh Aku masuk ke perguruan tinggi. Pilihannya untuk menjadi penulis membuatnya putus dari kuliahnya. Ia pun tak kunjung berhasil menjadi seorang penulis seperti yang dibayangkannya. Puncaknya adalah saat harus kembali ke kampungnya untuk menengok sang ibu yang sakit keras. Pilihan akan jalan hidupnya itu dianggap sebagai aib dan ketidak-berhasilan dalam hidup oleh keluarganya. Dwi Cipta mengajukan sebuah pemikiran bahwa sekolah, membaca buku dan gelar-gelar dari kampus-kampus tidak selalu menghasilkan orang-orang yang selama ini diidamkan oleh kebudayaan kita. Ia menunjukkan bahwa kata-kata, buku dan persekolahan bisa membawa seseorang menjadi kritis dan mempertanyakan tujuan hidup, bahkan mempertanyakan eksistensinya sebagai manusia. Gagasan ini tidaklah baru. Setidaknya bagi budaya Eropa yang sudah lama menggeluti persoalan eksistensi diri. Namun bagi budaya Indonesia tentu saja berpikir semacam ini masih sangat jarang dan tabu? Sekolah itu dianggap sebagai sarana untuk mencari ilmu demi bekal masa depan ekonomi yang lebih baik. Kisah si Aku dalam buku ini menyimpang dari pakem yang sudah diyakini oleh budaya kita. Dwi Cipta menunjukkan bagaimana sengsaranya menjadi orang yang menyimpang dari pakem. Seorang yang tak tahu balas budi kepada orang tua yang sudah berkorban berinvestasi bagi masa depan sang anak. Dwi Cipta menampilkan tokoh Aku dengan cara pikir Barat. Bacaan-bacaannya pun bacaan-bacaan Barat. Ia membangun tokoh aku yang kritis terhadap situasinya. Ia fasih membahas legenda Yunani. Ia paham filsafat-filsafat dan cara berpikir Barat. Itulah sebabnya tokoh Aku menentang situasinya dengan cara pikir Barat. Ia tidak menengok sedikit pun cara berpikir Timur, apalagi berpikir cara Nusantara. Apakah memang budaya baca-tulis-buku-sekolah adalah monopoli Barat? Satu lagi yang ingin saya bahas tentang buku ini. Yaitu tentang format yang katanya adalah Novel. Memang di awal sepertinya saya akan disuguhi oleh sebuah kisah yang sangatlah menarik. Dwi Cipta memulai dengan latar belakang sejarah perkebunan tebu di desanya. Ia menggambarkan konflik yang tajam antara para pemodal pabrik gula yang berselingkuh dengan para pejabat daerah melawan penduduk. Ia juga menukil kisah kelam tahun 1965. Kalimat pembuka buku ini pun sangat provokatif “Pada mulanya adalah kisah keringnya sungai di sebelah timur rumahku selama bulan Oktober.” Apalagi Dwi Cipta juga membumbui awal bukunya dengan legenda Dewi Lanjar dan Kapal Kaladita. Maka saat saya membaca bagian awal buku ini, saya sudah merasa akan disuguhi kisah yang dijalin seputar sengketa ideologis antara kapitalisme dengan sosialisme atau Jawanisme. Ternyata di bab-bab selanjutnya intensitas konflik yang sangat tajam dibangun di awal buku lenyap ditelan kata-kata. Selanjutnya saya disuguhi oleh pergumulan tunggal tokoh sang Aku. Saat selesai membaca buku ini, saya teringat dengan buku karya Jean Paul Sartre yang berjudul “Les Mots” yang diterjemahkan oleh Jean Couteau menjadi “Kata-Kata.” Dalam bukunya ini Sartre juga berkisah tentang pergumulannya dengan “kata-kata.” Sartre menuangkan riwayat hidupnya menjadi sebuah buku yang menggambarkan perjuangannya untuk menjadi seorang penulis. Saya senang ada karya orang Indonesia yang berani mengungkap perenungan dan perjuangan eksistensialnya sebagai manusia intelektual, seperti halnya Sartre menuliskannya di Perancis sana. Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.
Commentaire composé complet, rédigé par le professeur. Dernière mise à jour 02/11/2021 • Proposé par SYL élève Texte étudié AUX LECTEURS Amis lecteurs qui ce livre lisez, Défaites-vous de toute affection, Et le lisant ne vous scandalisez. Il ne contient ni mal ni infection. Il est vrai qu’il a peu de perfection À vous apprendre, sinon en fait de rire Mon cœur ne peut autre sujet choisir, Voyant le deuil qui vous mine et consume ; Mieux vaut de rire que de larmes écrire, Parce que rire est le propre de l’homme. PROLOGUE Buveurs très illustres, et vous vérolés très précieux car c'est à vous, et à nul autre, que sont dédiés mes écrits, Alcibiade, au dialogue de Platon intitulé Le Banquet, louant son précepteur Socrate, qui est sans discussion le prince des Philosophes, dit, entre autres paroles, qu'il est semblable aux silènes. Les Silènes étaient jadis de petites boîtes comme nous voyons à présent dans les boutiques des apothicaires, peintes au-dessus de figures comiques et frivoles, comme des harpies, des satyres, des oisons bridés, des lièvres cornus, des canes bâtées, des boucs volants, des cerfs attelés et telles autres figures représentées à plaisir pour exciter le monde à rire. Tel fut Silène, maître du bon Bacchus. Mais au-dedans on rangeait les drogues fines, comme le baume, l'ambre gris, la cardamome, le musc, la civette, les pierreries en poudre, et autres choses précieuses. Il disait que Socrate était pareil parce qu’en le voyant du dehors et en l’estimant par son apparence extérieure, vous n'en auriez pas donné une pelure l'oignon, tellement il était laid de corps et de maintien risible, le nez pointu, le regard d'un taureau, le visage d'un fou, simple dans ses moeurs, rustique dans ses vêtements, pauvre de fortune, infortuné en femmes, inapte à tous les offices de l'état, toujours riant, toujours buvant à la santé d’un chacun, toujours plaisantant, toujours dissimulant son divin savoir. Mais en ouvrant cette boîte, vous auriez trouvé au-dedans une drogue céleste et inappréciable, un entendement plus qu'humain, une force d'âme merveilleuse, un courage invincible, une sobriété sans pareille, un contentement assuré, une assurance parfaite, un mépris incroyable de tout ce pour quoi les humains veillent, courent, travaillent, naviguent et bataillent tellement. À quel propos, à votre avis, tend ce prélude et coup d'essai ? Parce que vous, mes bons disciples, et quelques autres fous qui n’ont rien à faire, en lisant les joyeux titres de certains livres de notre invention, comme Gargantua, Pantagruel, Fessepinte, La dignité des braguettes, des pois au lard avec un commentaire, etc., vous jugez trop facilement qu’ils ne traitent à l’intérieur que de moqueries, folâtreries et joyeux mensonges, puisque l'enseigne extérieure, si on ne cherche pas plus loin, est communément reçue à dérision et rigolade. Mais il ne faut pas juger si légèrement les œuvres des humains. Car vous-mêmes vous dites que l'habit ne fait pas le moine, et tel est vêtu d’habits monacaux qui au-dedans n'est rien moins que moine ; et tel est vêtu d'une cape à l’espagnole, qui dans son cœur n’appartient nullement à l'Espagne. C'est pourquoi il faut ouvrir le livre et soigneusement peser ce qui y est raconté. Alors vous connaîtrez que la drogue qu’il contient est de bien autre valeur que ne le promettait la boîte. C'est-à -dire que les matières traitées ici ne sont pas si folâtres que le titre dessus le prétendait. Rabelais, Gargantua - Prologue Traduction Mme Fragonard Écrit en 1534 par François Rabelais sous le pseudonyme de Alcofribas Nasier, le prologue de Gargantua est destiné, comme tout prologue, à inciter à la lecture. C’est une invitation au lecteur à découvrir un univers imaginaire, mais aussi une pensée et un style. Cependant ce prologue va plus loin il donne des clés de lecture de l’œuvre et pose déjà les bases de la philosophie humaniste prônée par l’auteur. Nous verrons comment ce texte, sous une apparence comique, dissimule en réalité une réflexion profonde et pertinente sur le genre humain. I. Une apparence comique a Le registre burlesque Le prologue est précédé d’un dizain strophe ou un poème de dix vers liminaire sous forme d’apostrophe au lecteur. Rabelais place ainsi son œuvre sous le signe du rire parce que rire est le propre de l’homme. ». Le champ lexical du rire, et les nombreuses connotations qui l’accompagnent, soulignent le programme de Gargantua de quoi rire ; le rire ; à rire ; ridicule ; toujours riant ; se réjouissant ; farces ; dérision ; moqueries ; folâtreries ; rigolade… » Rabelais a recours au registre burlesque c'est-à -dire à l'emploi de termes comiques ou vulgaires pour traiter d’un sujet ou de personnages nobles. On a ici une décalage entre le titre élogieux La vie inestimable du grand Gargantua » qui nous place dans un registre épique hérité des romans de chevalerie, ou même hagiographique, qui relate la vie des saints et le style bas qui transparaît dès la première ligne et l’apostrophe au lecteur, traité par les oxymores de buveurs illustres » et de vérolés très précieux. » Le burlesque vise à rabaisser ce qui est noble ou respectable, ici le portrait de Socrate. Le grand philosophe est dépeint via un portrait péjoratif qui ridiculise son apparence physique laid de corps, de maintien risible, le regard d’un taureau, le visage d’un fou… » Les références qui lui sont associées sont marquées par la négation inapte, infortuné », discordante avec le personnage de Socrate, reconnu de tous comme un modèle de sagesse, et le père même de la philosophie. De plus, le prologue cherche en principe à susciter la bienveillance du lecteur pour lui donner envie de poursuivre ici, le lecteur est presque insulté ! Mais la tournure oxymorique nous permet de comprendre qu’il s’agit d’une plaisanterie, et que Rabelais s’adresse à nous comme à de bons et fidèles camarades. b Un style dionysiaque Par apposition à l’esthétique appolinienne, qui célèbre Apollon le dieu des arts et de la beauté, symbole d’ordre et de culture, le dionysiaque est une esthétique de la démesure, de l’ivresse, de l’instabilité et de l’enthousiasme. Apollon incarne l’ordre, Dionysos, le dieu de la vigne, incarne la gaieté et le chaos. L’apostrophe buveurs très illustres » place d’emblée le lecteur dans cet univers. Il faut lire Gargantua comme on boirait du vin, pour en tirer une ivresse joyeuse. Rabelais évoque aussi Silène, le satyre père adoptif de Dionysos. L’ivresse transparaît partout dans l’écriture de Rabelais, à travers les nombreuses énumérations délirantes comme les harpies, les satyres, les oisons bridés, les lièvres cornus, les boucs volants etc. » On dirait un propos d’ivrogne en proie à des hallucinations, comme si l’auteur, incapable de s’arrêter de parler, était emporté par une ivresse littéraire. L’énumération des œuvres participe à cette sensation Gargantua et Pantagruel sont citées mais les titres suivants sont fantaisistes et inventés par l’auteur, à portée presque scatologique Fessepinte, la Dignité des braguettes… » et donc de ce qu’elles contiennent.. C’est la promesse d’une œuvre marquée par la joie et la spontanéité. Mais derrière cette écriture fantaisiste et dionysiaque se cache une œuvre à visée philosophique le prologue sert à nous avertir de ce double niveau de lecture. II. Un prologue philosophique a Le rire, une porte d'entrée vers la pensée de l’auteur Le rire de Rabelais est un choix réfléchi, une posture volontaire, comme le montre la formule comparative mieux vaut de rire que de larmes écrire ». Il vaut mieux écrire de quoi rire que de quoi pleurer, car le rire est le propre de l’homme. Rabelais insiste sur le rire qui est un privilège unique de la condition humaine les animaux ne rient pas. Dans le même temps, il évoque un deuil qui mine et consume » le registre tragique est amené en opposition au ton burlesque et joyeux de cette apostrophe. L’auteur rappelle que son œuvre a deux niveaux de lecture en surface, le comique et le burlesque qui amuse et divertit ; en profondeur le tragique et le sérieux, inhérent à la condition humaine, par essence mortelle et fragile. Le champ lexical de la philosophie contrebalance la tonalité comique du texte Socrate, prince des philosophes, compréhension, vertu, contentement, examen approfondi, interpréter, nature, sage… » Ce vocabulaire abstrait s’oppose à l’univers fantaisiste et scatologique et souligne l’ambition philosophique de l’œuvre. Le texte est d’ailleurs structuré à la manière d’un texte argumentatif 1er paragraphe descriptif à visée argumentative avec la métaphore filée de la boite, qui insiste sur l’importance du contenu sur le contenant, tout comme pour Socrate en intérieur intelligence, force, merveille… », et donc comme pour l’œuvre. Le deuxième paragraphe est argumentatif et construit avec la présence de connecteurs logiques mais, car, c’est pourquoi, alors, dans l’hypothèse où… » Rabelais est donc moins ivre qu’il n’y parait. Il veut valoriser la raison et la logique le rire est une porte d’entrée dans l’œuvre qui séduit le lecteur dans l’immédiat, pour ensuite lui faire découvrir une réflexion humaniste. Il s’amuse même en accusant le lecteur d’avoir trop bu ! b Une médecine de l’âme Rabelais est un médecin diplômé et pratiquant. Il a lu Hippocrate et Galien, qu’il cite d’ailleurs ensuite dans ce même prologue. Cette formation transparaît tout au long du prologue. Le champ lexical de la médecine est omniprésent ni mal ni infection ; remèdes ; baumes ; drogue… » La lecture de Gargantua nous est prescrite à la manière d’un médicament. Il est destiné à guérir les âmes en les ouvrant à la sagesse et à la vérité. C’est un manifeste humaniste. III. Un prologue humaniste a La grandeur de l’homme Sous la satire, Rabelais met en avant la noblesse de notre dimension spirituelle. À travers une énumération des activités qu’il juge dégradantes pris de convoitise, travaillent courent, naviguent, bataillent… » il fait une allusion très claire aux préoccupation sociales de son temps, guerre de religion, commerce maritime etc.. Il caricature les hommes entraînés dans le tourbillon d’une vie sans prendre le temps de penser ou de réfléchir. Cette pensée est résolument moderne pour son époque, car elle peut s’appliquer encore parfaitement aujourd’hui ! Il appelle l’homme à se dépouiller de l’action frénétique pour accéder à la contemplation et à la réflexion. Il met en valeur les bienfaits de la connaissance à l’aide du registre épique compréhension plus qu’humaine, vertus merveilleuses, courage invincible, assurance parfaite… ». Il met en évidence la grandeur de l’homme, sa capacité à utiliser son esprit pour comprendre le monde. b Une nouvelle conception de la littérature Rabelais souhaite dépeindre l’homme tel qu'il est. Il mentionne les croyances populaires l’habit ne fait pas le moine » et utilise le langage quotidien et non savant pour parler de l’homme tel qu’il est, sans chercher à l’idéaliser. Il abolit la frontière entre écrit et oral, et entame un dialogue avec le lecteur, comme le prouve la 2eme personne du pluriel c’est à vous que je dédie… ; pour que vous mes bons disciples ; avez-vous trop bu ? ». Il joue le rôle d’un Socrate qui, par le dialogue, cherchait à défaire les préjugés de son interlocuteur. Socrate utilisait sa propre méthode, appelée la maïeutique, ou l’accouchement des âmes. Rabelais, à travers le philosophe grec, fait revivre le patrimoine gréco-latin que les humanistes redécouvrent et veillent à appliquer dans leur vie quotidienne. c Par-delà le chaos Comique, argumentatif, philosophique… ce prologue est aussi étonnamment poétique. De nombreuses rimes internes dans les descriptions témoignent d’une volonté esthétique. Les assonances ajoutent de la musicalité. Le texte, qui s’ouvrait sur une célébration du chaos dionysiaque, se révèle paradoxalement soucieux de son harmonie. Rabelais cherche à rapprocher les contraires le rire et le tragique, le laid et le beau, l’ordre et le chaos… Il veut montrer l’unité du monde plutôt que sa division. La subtilité de cette dimension poétique souligne que le monde reste unifié sous son apparence désordonnée et anarchique. Sans doute est-ce le cœur même du projet humaniste. Conclusion Ce prologue de Gargantua permet au lecteur de comprendre le contenu de l’ouvrage à venir une œuvre littéraire contenant des genres et des registres multiples, de la farce jusqu’à la poésie. Ce texte résume à lui seul le projet humaniste de Rabelais étudier le foisonnement et la complexité du monde mais surtout en louer son unité.
Apakah Pergumulan Hidup Si Penulis – Si penulis adalah seorang yang bersemangat dan berkeyakinan. Ia memiliki visi dan pendiriannya yang kuat. Namun, ia juga sering menghadapi persoalan dalam hidupnya. Ia menghadapi rintangan yang menghalangi jalan untuk menuju tujuannya. Hal ini dimulai dari masa lalunya yang penuh kesulitan. Dia tumbuh di lingkungan yang kurang mendukung dan sering membuatnya merasa aneh. Ia berjuang untuk menemukan identitasnya sendiri dan membangun kepercayaan diri. Selain itu, dia juga sering menghadapi masalah finansial. Ia merasa sulit untuk menyediakan uang untuk biaya hidup, biaya pendidikan, dan biaya untuk menyelesaikan proyek-proyeknya. Dia harus berjuang keras untuk menemukan cara yang tepat untuk membuat kehidupan yang lebih baik. Selain masalah finansial, dia juga menghadapi masalah mental. Ia sering merasa putus asa dan tidak memiliki apa-apa yang bisa diharapkan. Dia merasa tertekan dan seperti tidak ada jalan keluar. Untuk menghadapi semua persoalan ini, dia harus menggunakan semua kemampuan yang dimilikinya. Ia harus berusaha untuk menemukan cara untuk mengatasi masalah-masalah yang ada dalam hidupnya. Cara-cara itu bisa meliputi membuat rencana, mengambil risiko, dan menggunakan kekuatan batinnya. Dia juga harus berusaha untuk menerima bahwa tidak semua yang ia lakukan akan berhasil. Ia harus belajar untuk mengambil keputusan yang baik dan menghindari pilihan yang salah. Pada akhirnya, si penulis harus mengingat bahwa ia punya kekuatan untuk menghadapi pergumulan hidupnya. Dia harus merasa optimis dan berusaha untuk melihat setiap masalah sebagai tantangan yang bisa diatasi. Jika ia berusaha keras, ia akan dapat mencapai tujuannya dan hidup yang lebih baik. Penjelasan Lengkap Apakah Pergumulan Hidup Si Penulis1. Si penulis memiliki visi dan pendirian yang kuat, namun ia juga harus menghadapi persoalan dalam Ia tumbuh di lingkungan yang kurang mendukung yang membuatnya merasa aneh dan berjuang untuk menemukan identitasnya Dia menghadapi masalah finansial untuk biaya hidup, biaya pendidikan, dan biaya untuk menyelesaikan Ia juga menghadapi masalah mental seperti merasa putus asa dan tidak memiliki apa-apa yang bisa Untuk menghadapi persoalan hidupnya, ia harus menggunakan kemampuan yang dimilikinya dan mengambil Ia juga harus mengambil keputusan yang baik dan menghindari pilihan yang Pada akhirnya, ia harus mengingat bahwa ia memiliki kekuatan untuk menghadapi pergumulan hidupnya. Penjelasan Lengkap Apakah Pergumulan Hidup Si Penulis 1. Si penulis memiliki visi dan pendirian yang kuat, namun ia juga harus menghadapi persoalan dalam hidupnya. Si Penulis memiliki visi dan pendirian yang kuat. Kedua hal ini membuatnya menjadi seseorang yang berkepribadian kuat dan memiliki komitmen untuk mengejar tujuannya. Ia tahu bahwa hidup tidak selalu mudah dan bahwa ia harus berjuang untuk mencapai tujuannya. Visi dan pendiriannya memberikan dia kekuatan untuk tetap berpikir positif meskipun ia harus menghadapi berbagai persoalan. Persoalan yang dihadapi si penulis beragam. Ia harus berjuang untuk mencapai tujuannya dan mendapatkan apa yang diinginkannya. Ia harus berjuang menghadapi rintangan fisik dan mental. Ia juga harus berjuang menghadapi persoalan finansial. Ia mungkin harus berjuang untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan menghadapi persaingan yang ketat. Ia juga mungkin harus berjuang untuk mempertahankan kehidupan yang layak dan menghadapi situasi yang tidak pasti. Ia mungkin juga harus berjuang untuk mencapai tujuannya dengan menghadapi rintangan dari orang lain. Ketika menghadapi persoalan, si penulis harus berjuang untuk mengubah situasi dan membuatnya menjadi lebih baik. Ia harus menggunakan visi dan pendiriannya untuk membuat keputusan yang tepat. Ia harus mengambil tindakan yang tepat dan berpikir secara logis. Ia juga harus terbuka untuk menerima bantuan dan nasihat dari orang lain. Ia harus belajar bagaimana mengatasi masalah dan menjadi lebih kuat. Ia harus belajar bagaimana menjadi lebih fleksibel dan beradaptasi dengan situasi yang berubah. Kebalikan dari pergumulan hidup si penulis adalah kemampuannya untuk bersyukur. Ia harus mampu menghargai harta dan kehidupan yang dimilikinya. Ia harus mampu melihat masa depan dengan optimisme. Ia juga harus mampu berdamai dengan situasi yang ada dan berusaha untuk mencapai tujuannya dengan cara yang paling efektif. Ia harus mampu menerima kenyataan dan bergerak maju. Untuk mencapai tujuannya, si penulis harus siap untuk berjuang. Ia harus berjuang melawan rasa putus asa dan rintangan yang ada. Ia harus berjuang untuk menemukan jalan yang tepat untuk mencapai tujuannya. Ia harus berjuang untuk mempertahankan visi dan pendiriannya. Ia juga harus berjuang untuk mempertahankan keberanian dan kegigihannya. Ia harus berjuang untuk mencapai tujuannya meskipun ia harus menghadapi berbagai persoalan. 2. Ia tumbuh di lingkungan yang kurang mendukung yang membuatnya merasa aneh dan berjuang untuk menemukan identitasnya sendiri. Pergumulan hidup si penulis bisa dikatakan cukup kompleks. Dari luar, ia mungkin terlihat seperti orang yang normal, namun dalam hatinya, ia mungkin merasakan sebuah perjuangan yang mengharuskannya untuk menemukan identitas dirinya sendiri. Ini tentu saja karena ia tumbuh di lingkungan yang tidak mendukung, yang membuatnya merasa aneh dan berjuang untuk menemukan identitasnya sendiri. Ketidakmendukungan lingkungan ini terutama berasal dari dua hal. Pertama, ia mungkin merasa tidak terlalu dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya. Mereka mungkin tidak mengerti apa yang ia alami, dan mungkin tidak bisa membantunya menemukan identitas dan tujuan hidup dirinya sendiri. Kedua, ia mungkin merasa tertekan oleh kultur dan budaya yang ada di lingkungannya. Mereka mungkin tidak berpikir sama, dan mungkin tidak mendukung apa yang ia coba lakukan. Ini membuatnya merasa aneh dan kesepian. Ketidakmendukungan lingkungan ini bukan hanya berdampak pada perasaan si penulis, tetapi juga pada kinerjanya. Ia mungkin merasa sulit untuk berkonsentrasi dan fokus pada tugas-tugasnya, dan mungkin merasa tidak bersemangat untuk melakukan apa pun. Ini tentu saja merugikan si penulis, karena ia tidak bisa mencapai potensinya yang sebenarnya. Ketidakmendukungan lingkungan ini juga membuat si penulis merasa putus asa dan tidak berdaya. Ia mungkin merasa bahwa ia tidak bisa mencapai tujuan hidupnya sendiri tanpa bantuan orang lain, atau bahkan tanpa berjuang sendiri. Ia mungkin merasa sulit untuk melakukan apa pun tanpa bantuan lingkungan yang mendukung. Namun, meskipun lingkungannya tidak mendukung, si penulis masih bisa menemukan identitas dan tujuan hidup dirinya sendiri. Ia harus berusaha untuk mencari sesuatu yang mendorongnya untuk bergerak ke arah yang benar. Ia juga harus mencari orang-orang yang dapat memahaminya dan mendukungnya. Dengan cara ini, ia akan dapat menemukan identitas dan tujuan hidup dirinya sendiri. Dalam kesimpulan, pergumulan hidup si penulis terutama disebabkan oleh lingkungannya yang tidak mendukung. Ia mungkin merasa aneh dan kesepian, dan mungkin merasa putus asa dan tidak berdaya. Namun, dengan usaha dan bantuan orang lain, ia masih dapat menemukan identitas dan tujuan hidup dirinya sendiri. 3. Dia menghadapi masalah finansial untuk biaya hidup, biaya pendidikan, dan biaya untuk menyelesaikan proyek-proyeknya. Pergumulan hidup yang dihadapi oleh si penulis dapat dibagi menjadi tiga – masalah finansial untuk biaya hidup, biaya pendidikan, dan biaya untuk menyelesaikan proyek-proyeknya. Pertama, si penulis menghadapi masalah finansial untuk biaya hidup. Membayar tagihan utilitas, biaya makanan, dan biaya transportasi adalah beberapa hal yang harus dibayar untuk mendukung biaya hidup. Biaya-biaya ini harus dipenuhi untuk memastikan kualitas hidup yang baik. Si penulis mungkin memiliki pendapatan dari sumber daya yang berbeda, termasuk menulis, menyelesaikan proyek, atau bekerja paruh waktu. Namun, bahkan dengan pendapatan yang lebih tinggi, masalah finansial tetap menjadi pergumulan yang harus dihadapi. Kedua, masalah finansial juga timbul ketika si penulis harus membayar biaya pendidikan. Setiap tahun, biaya pendidikan bisa meningkat, dan si penulis mungkin harus berjuang untuk membayar biaya-biaya tersebut. Pendidikan adalah salah satu aspek penting dalam hidup, dan si penulis mungkin harus memilih untuk membayar biaya pendidikan lebih tinggi daripada menggunakannya untuk membayar tagihan lainnya. Ketiga, masalah finansial juga timbul ketika si penulis harus menyelesaikan proyek-proyeknya. Proyek-proyek yang dihadapi oleh si penulis mungkin melibatkan biaya yang cukup tinggi. Biaya ini mungkin berupa peralatan, sumber daya, dan biaya transportasi. Si penulis mungkin harus meminjam uang atau mencari pinjaman untuk menyelesaikan proyek-proyeknya. Dalam kesimpulannya, masalah finansial adalah salah satu pergumulan hidup yang dihadapi oleh si penulis. Masalah finansial yang ia hadapi berbeda-beda, termasuk biaya hidup, biaya pendidikan, dan biaya menyelesaikan proyek-proyeknya. Si penulis harus berjuang untuk memenuhi biaya-biaya tersebut untuk memastikan kualitas hidup yang baik. Oleh karena itu, mengelola uang dan mencari sumber pendapatan yang tepat adalah hal penting yang harus diperhatikan oleh si penulis. 4. Ia juga menghadapi masalah mental seperti merasa putus asa dan tidak memiliki apa-apa yang bisa diharapkan. Pergumulan hidup si penulis dapat bervariasi dari situasi ke situasi. Ia harus berhadapan dengan berbagai masalah, mulai dari masalah ekonomi hingga masalah mental. Salah satu masalah mental yang dihadapi oleh si penulis adalah merasa putus asa dan tidak memiliki apa-apa yang bisa diharapkan. Merasa putus asa dapat berdampak buruk bagi si penulis. Ia mungkin merasa tidak berdaya dan bahwa usahanya tidak akan pernah berhasil. Ini dapat mengganggu konsentrasinya dan mengurangi produktivitasnya. Ia mungkin juga akan mulai meragukan kemampuannya, menjadi pesimis dan mengurangi rasa percaya dirinya. Hal ini dapat mengakibatkan depresi dan rasa takut yang menghalangi si penulis untuk melangkah maju. Selain merasa putus asa, si penulis juga menghadapi masalah tidak memiliki apa-apa yang bisa diharapkan. Ini dapat menyebabkan rasa frustrasi karena si penulis tidak memiliki tujuan atau cita-cita yang jelas. Ia mungkin merasa bahwa usahanya tidak akan pernah berhasil dan bahwa tidak ada yang bisa ia capai dalam hidupnya. Ia mungkin juga merasa bahwa ia tidak memiliki alasan untuk terus berusaha. Kondisi ini dapat membuat si penulis berjuang untuk tetap bertahan dan melangkah maju. Ia harus menemukan cara untuk mengatasi masalah mentalnya dan menemukan tujuan dalam hidupnya yang dapat memberinya alasan untuk terus berusaha. Ia harus menemukan cara untuk menyadari potensi dan kemampuannya dan menemukan alasan untuk bangkit dan terus bergerak maju. Kesulitan yang dihadapi si penulis dalam menghadapi masalah mental seperti merasa putus asa dan tidak memiliki apa-apa yang bisa diharapkan dapat diatasi dengan berusaha untuk menemukan tujuan dalam hidupnya dan meningkatkan rasa percaya diri. Ia harus belajar bagaimana menghadapi masalah-masalah mental dan menemukan cara untuk bangkit dan terus bergerak maju. Dengan berpegang pada tujuan dan cita-cita yang diinginkan, si penulis dapat mengatasi masalah-masalah mental dan mencapai tujuannya. 5. Untuk menghadapi persoalan hidupnya, ia harus menggunakan kemampuan yang dimilikinya dan mengambil risiko. Pergumulan hidup si penulis adalah masalah yang harus dihadapi setiap orang dalam kehidupan mereka. Si Penulis adalah salah satu contoh dari orang-orang yang harus menghadapi pergumulan hidupnya. Dalam menghadapi persoalan hidupnya, ia harus menggunakan kemampuan yang dimilikinya dan mengambil risiko. Untuk menghadapi persoalan hidupnya, si Penulis harus mengetahui bahwa ia memiliki beberapa kemampuan yang dapat membantu ia menghadapinya. Kemampuan yang dimiliki si Penulis dapat berupa kemampuan untuk menulis, berbicara, berkomunikasi, dan bertindak. Dengan menggunakan kemampuan-kemampuan ini, ia dapat membuat keputusan yang tepat untuk menyelesaikan masalahnya. Selain itu, si Penulis juga harus mengambil risiko. Risiko yang harus diambil oleh si Penulis adalah risiko untuk mengambil tindakan dan berani menghadapi konsekuensinya. Risiko ini harus diambil oleh si Penulis untuk mencapai tujuannya. Jika ia tidak berani mengambil risiko, ia tidak dapat mencapai tujuannya. Tetapi, si Penulis juga harus menyadari bahwa risiko yang diambilnya juga dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, ia harus mempertimbangkan apakah risiko yang akan diambilnya akan lebih menguntungkan atau merugikan ia. Jika ia merasa bahwa risiko yang akan diambilnya merugikan ia, ia harus mencari cara lain untuk menyelesaikan masalahnya. Kesimpulannya, pergumulan hidup si Penulis adalah masalah yang harus dihadapi oleh semua orang. Untuk menghadapi persoalan hidupnya, ia harus menggunakan kemampuan yang dimilikinya dan mengambil risiko. Dengan menggunakan kemampuan yang ia miliki dan mengambil risiko, si Penulis dapat mencapai tujuannya dan menyelesaikan masalahnya. 6. Ia juga harus mengambil keputusan yang baik dan menghindari pilihan yang salah. Pergumulan hidup si penulis adalah kombinasi dari berbagai rintangan, tantangan, dan pilihan yang harus dihadapinya. Ia harus berusaha menyesuaikan diri dengan situasi yang ada serta mencari cara untuk mencapai tujuannya. Meskipun begitu, ia tidak hanya harus bertindak dengan cepat dan tepat, ia juga harus mengambil keputusan yang baik dan menghindari pilihan yang salah. Berbagai pilihan yang ada bisa membuat si penulis bingung untuk dipilih. Hal ini bisa menjadi beban berat baginya karena ia harus mempertimbangkan berbagai faktor untuk membuat keputusan yang tepat. Ia harus menilai efek dari setiap pilihan yang ada dan memutuskan mana yang paling baik. Ia juga harus memahami bagaimana setiap pilihan akan mempengaruhi tujuannya. Keputusan yang baik harus didasari oleh informasi yang tepat. Si Penulis harus memastikan bahwa ia memiliki segala informasi yang diperlukan sebelum membuat keputusan. Ini bisa berupa data, analisis, dan bahkan opini orang lain yang berkompeten. Dengan informasi yang tepat, ia bisa membuat keputusan yang tepat dan menghindari pilihan yang salah. Selain itu, ia juga harus menghindari beberapa tindakan yang bisa merugikan tujuannya. Ia harus memastikan bahwa ia tidak terjebak pada perasaan atau pemikiran yang bisa menghambat tujuannya. Ia juga harus menghindari pilihan yang bisa menimbulkan konsekuensi negatif baginya. Keterampilan mengambil keputusan yang baik dan menghindari pilihan yang salah bisa menjadi nilai yang berharga bagi si penulis. Dengan menggunakan keterampilan ini, ia bisa mencapai tujuannya dengan lebih mudah. Ia juga bisa menghindari kesalahan yang bisa menghambat perjalanannya menuju kesuksesan. Kesimpulannya, pergumulan hidup si penulis sangat kompleks. Ia harus memiliki keterampilan untuk mengambil keputusan yang baik dan menghindari pilihan yang salah agar dapat mencapai tujuannya. Dengan memiliki keterampilan ini, ia bisa menghindari kesalahan yang bisa menghambat perjalanannya menuju kesuksesan. 7. Pada akhirnya, ia harus mengingat bahwa ia memiliki kekuatan untuk menghadapi pergumulan hidupnya. Ketika seseorang menjalani kehidupan, ia akan menghadapi berbagai jenis pergumulan. Bagi banyak orang, ini dapat menjadi proses yang menakutkan dan menakutkan. Pergumulan hidup yang dihadapi oleh si penulis mungkin berbeda dengan yang dihadapi orang lain, namun ia harus menemukan cara untuk mengatasinya. Pertama, ia harus menganalisa apa yang menyebabkan pergumulan tersebut. Ini akan membantu dia mengerti bagaimana ia bisa menyelesaikannya. Kedua, ia harus mencari cara untuk mengurangi stres yang disebabkan oleh pergumulan tersebut. Untuk melakukan ini, ia harus menemukan cara untuk meredakan tekanan dan menemukan cara untuk menyelesaikan masalah. Kurangi waktu yang ia gunakan untuk berfikir tentang masalah tersebut. Dengan melakukan ini, ia akan lebih siap untuk menghadapi masalah. Ketiga, ia harus mencari cara untuk mengidentifikasi dan mengubah penyebab masalah. Ini berarti ia harus mengidentifikasi tindakan yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah dan juga mengubah cara berfikirnya. Dengan cara ini, ia akan dapat memahami masalah lebih baik dan menemukan cara untuk menyelesaikannya. Keempat, ia harus membangun keberanian untuk menghadapi masalah. Ini bisa dilakukan dengan mengingatkan dirinya bahwa ia memiliki kekuatan untuk menghadapi masalah. Ia juga harus memiliki sikap positif terhadap masalah, sehingga ia dapat mengambil tindakan yang diperlukan untuk menyelesaikannya. Kelima, ia harus menggunakan kemampuannya untuk mengurangi beban yang ia alami. Ini berarti ia harus menggunakan kemampuannya untuk mengidentifikasi masalah dan menemukan solusi untuk masalah tersebut. Ia juga harus menggunakan kemampuannya untuk mengubah cara berfikirnya dan melihat masalah dengan cara yang berbeda. Keenam, ia harus berusaha untuk menghadapi masalah dengan cara yang berbeda. Ia harus mencari cara untuk melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda. Ia juga harus mencoba untuk menemukan cara baru untuk menyelesaikan masalah. Dengan melakukan ini, ia akan dapat menemukan solusi yang terbaik untuk masalah tersebut. Pada akhirnya, ia harus mengingat bahwa ia memiliki kekuatan untuk menghadapi pergumulan hidupnya. Ia harus mengingat bahwa ia memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya dan berusaha untuk melakukannya. Ia harus mencari cara untuk mengurangi stres dan mencari cara untuk mengidentifikasi dan mengubah penyebab masalahnya. Ia juga harus mengingat bahwa ia memiliki kemampuan untuk menghadapi masalah dengan cara yang berbeda. Dengan cara ini, ia akan dapat mencapai tujuannya dan menyelesaikan pergumulan hidupnya.
Semua orang, apapun statusnya tidak terlepas dari pergumulan. Mulai dari pergumulan yang kecil atau ringan sampai pergumulan yang besar atau berat. Entah pergumulan tentang keluarga, pasangan hidup, pekerjaan, ekonomi, kesehatan, relasi dengan sesama dan lain sebagainya. Adakalanya pergumulan itu bisa kita atasi tetapi tidak sedikit juga membuat kita berada pada situasi yang seolah-olah tidak ada jalan keluar. Hal demikian juga dialami oleh orang-orang berimana di dalam Alkitab, salah satunya adalah Elia 1 Raj. 199-18. Elia adalah seorang nabi yang dipakai Tuhan luar biasa, yaitu melawan para nabi Baal. Dia melayani Tuhan, namun ia merasakan juga yang namanya tekanan hidup. Walau, mungkin pergumulan yang dia hadapi adalah berbeda dengan apa yang kita alami, namun pergumulannya bukan pergumulan yang ringan, melainkan pergumulan yang berat. Ia bahkan ingin mati, sebagaimana ia berkata, "Cukuplah itu! Sekarang ya Tuhan, ambillah nyawaku.." 1 Raj. 194. Ini berarti pergumulan nabi Elia sangat berat. Dari sepenggal kisah Elia ini mungkin membuat kita bertanya apakah Tuhan meninggalkan Elia? Apakah Tuhan tidak mengasihi Elia? Tentu jawabannya “Tidak”. Tuhan tidak meninggalkan Elia dan kasih Tuhan tetap ada untuk Elia. Demikian halnya dengan kita, sebesar apapun pergumulan yang kita hadapi percayalah Tuhan selalu menyertai dan kasih-Nya menaungi kita. Mungkin orang-orang disekitar kita mulai meninggalkan kita namun satu hal yang perlu dan tetap kita ingat bahwa Tuhan perduli kepada kita. Dia tidak pernah jauh dari kita bahkan Dia berjanji akan memberikan kelegaan kepada setiap kita yang letih lesu dan berbeban berat Matius 1128. Hal berikut yang perlu kita ingat dan sadari ketika kita menghadapi dan mengalami pergumulan yang berat adalah bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi yang mengasihi- Nya. Itulah yang disampaikan oleh rasul Paulus dalam tulisannya kepada orang percaya di Roma Rm. 828. Memperhatikan kembali kisah Elia, yang berjuang melawan para nabi Baal dan membuat diri Elia merasa tertekan hidupnya. Namun kalau kita memperhatikan dari dampak yang dilakukan oleh Elia adalah bahwa Allah ingin melakukan sesuatu yang baik bagi umat-Nya dan juga bagi Elia. Melalui hidupnya yang merasa tertekan, Allah menyatakan diri kepada Elia sehingga ia semakin mengenal Allah yang memelihara dan memberikan kekuatan kepadanya. Begitu pula dengan kita, bahwa kita percaya Tuhan tidak pernah salah dalam rancangan-Nya. Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi yang mengasihi- Nya. Selanjutnya, ketika pergumulan itu tak kunjung usai, arahkan seluruh hidup kita untuk melihat segala kebaikan Allah yang telah memelihara kehidupan kita. Kita perlu membuka mata rohani kita untuk melihat kehadiran Tuhan. Kalau kita mau jujur, sebetulnya apa yang kita zoom ketika sedang menghadapi pergumulan? Bukankah kita cenderung meng-zoom kesulitan yang kita hadapi ketimbang meng-zoom akan kasih dan kebaikan Allah yang telah dinyatakan kepada kita dalam diri Tuhan Yesus, yang telah menyerahkan nyawa-Nya mati di kayu salib karena kasih kepada kita. Dalam nyanyian pengajarannya, bani Korah berkata, mengapa engkau tertekan hai jiwaku, dan gelisah dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku Mzm. 426. Kiranya Tuhan menolong kita dalam menjalani kehidupan yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Tuhan memberkati.
apakah pergumulan hidup si penulis